Relationship Management [bukan jurnal kuliah]

“Hubungan yang baik itu bukan soal siap atau tidak siap untuk memilikinya melainkan apakah saya ini bisa dalam jangka panjang menjadi manusia yang menghargai pasangan saya yang akan berefek pasangan saya merasa bahwa dia menjadi lebih berarti sebelum saya mencintainya” Samuel Mulia – ‘Semu’ – Parodi – Kompas Minggu 12 Mei 2013

 

sumber : pinterest
sumber : pinterest

 

Happy Sunday all,

Pagi ini saya dibuat tersenyum oleh tulisan mas Samuel Mulia di dalam kolom Parodi – Kompas. Selain saya menganggumi Rene Suhardono dalam kolom Ultimate-U kompas setiap sabtu, saya juga suka menyimak renungan [saya suka melihatnya dari segi renungan] mas Samuel Mulia dalam kolom Parodi. Mungkin disebut Parodi karena memang isinya renungan Parodi Kehidupan.

Well, balik lagi mengenai Relationship Management [disclaimer : ini bukan jurnal kuliah, ataupun relationship dalam dunia database ya :p ] . Saya sendiri merasa belum expert mengenai Relationship Management apalagi yang ujung-ujungnya Cinta atau Hati [okay curcol dimulai], tanya saja dengan sahabat sekaligus teman kerja saya Mbak Olyvia, dalam setiap hari pasti ada saja curhat cinta yang saya utarakan kepadanya atau dengan sahabat-sahabat saya lainnya (tidak semua, hanya orang yang saya percaya & lebih berpengalaman dari saya saja).

Pada renungan Parodi hari ini yang berjudul “Semu” menggelitik saya, bahkan sempat menyolek perasaan saya, bahwa banyak yang tidak sadar bahwa hubungan (baca hubungan cinta) tidak dilandaskan pada keterbukaan dalam artian berbohong untuk kebaikan. Entah berbohong mengenai perasaan, mengenai kenyataan bahkan sampai akhirnya menikmati setiap bagian dalam kebohongan tersebut.

Sadar atau tidak sadar, kebiasaan berbohong dan kurangnya terbuka kepada pasangan/calon pasangan dapat mengakibatkan hubungan yang semu. Okay, hubungan yang seperti roller coaster itu juga belum tentu buruk kok, tetapi hubungan yang seperti jalan tol Malang Surabaya itu juga belum tentu baik.

Kunci Relationship Management adalah komunikasi, dimana kunci komunikasi yang baik adalah jujur dan terbuka. Ibarat dunia telekomunikasi, Pengirim dan Penerima disambungkan melalui transciever dimana transcievernya ini memiliki sifat jujur dan terbuka [hentikan ajeng, ini bukan kuliah sinyal sistem :p]

Jujur menurut KBBI [a] (1) lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); (2) tidak curang (misal dalam permainan, dengan mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg — dan disegani; (3) tulus; ikhlas, atau menurut saya lebih kepada John Mayer bilang Say what you need to say (tapi ya jangan lupa di filter dulu apa yang mau diucapkan)

Terbuka menurut KBBI (1) tidak sengaja dibuka; tidak tertutup; tersingkap: matanya — lebar krn keheranan; (2) tidak terbatas pada orang tertentu saja; tidak dirahasiakan. Saya lebih suka menyimpulkan sikap terbuka sebagai salah satu sikap yang tidak menutupi sesuatu dan menerima segala sesuatu dengan terbuka tanpa judge sebelumnya.

Setiap orang umumnya mengharapkan Hubungan dengan Pasangan terjalin dengan baik namun seringkali melupakan sifat jujur dan terbuka. Saya sadar sikap jujur dan terbuka pasti menyakitkan tetapi akan lebih baik daripada kita menikmati hubungan yang semu. Hubungan yang dilandasi, “oh ya sudah yang penting dia milikku,aku akan nurut”, “gapapa deh aku sakit hati yang penting dia milikku”, jadi sampai kapan kalimat ‘yang penting dia milikku’ ini berlangsung padahal kita sakit hati ataupun terpaksa berbohong demi menyenangkan pasangan kita.

Saya tidak mengajari readers untuk memberontak dengan pasangan secara brutal, oh No!, bukan itu tetapi lebih kepada say what you need to say secara terbuka dengan halus (di filter dulu kalimatnya). Saya juga percaya setiap hari adalah pelajaran dimana pelajaran Relationship Management salah satunya. Entah dengan pasangan,keluarga,atasan,bawahan serta masyarakat, sehingga sifat Jujur & terbuka itu bukan suatu momok yang harus ditutupi demi kebaikan hubungan ini.

Seperti quote diatas menyebutkan bahwa hubungan yang baik adalah bukan soal siap dan tidak siapnya kamu menjalaninya dengannya tetapi lebih kepada dapatkah kamu menginspirasi pasanganmu bahwa dia menjadi lebih berarti kembali ketika kamu mencintainya .

Semoga mata pelajaran kehidupan Relationship Management ini semua readers blog ini mendapatkan nilai A+!

Amin.

 

 

 

You may also like

6 Comments

  1. eciyee.. yang mau ambil les relationship management.. 😛
    it doesn’t even important to have somebody that can not bring happiness in your life, because love is about happy life 😀

Leave a Reply