Long Distance Relationship – why not?

Selamat datang bulan September , Semoga September kita semua ceria seperti nada dari lagu September – Earth Wind & Fire *tarikk mang-hahaha*

a444416ec9b03a863da9cf8ddbe28c16

Minggu awal pembuka bulan ini , daku ingin membahas mengenai hubungan LDR based on my experience *cieh* walaupun sering gagal, namun saya 100000000000% yakin gagalnya bukan karena LDR-nya.

Well, sebagai seseorang yang sudah sering kali menikmati Long Distance Relationship [jangan tanya berapa kali gonta ganti baterai HP – kantung mata kayak panda gara-gara skype’an sampek malam – sampe tagihan telephone yang suka overbudget] buat saya LDR itu menyenangkan walaupun tantangannya banyak – dan saya ngerasa jauh lebih banyak tantangannya ketika LDR

Mulai dari yang namanya miss communication [nyalahin kenapa pemancar BTS ngga nyampe lokasi sehingga sinyal terhambat] , kangen tapi yang di kangeni lagi nun jauh disana [ketimbang yang dikangeni ga ada hayoo #curcol] , sampe hidup ngga pernah lepas dari gadget serta selalu planning dan saving money untuk bisa ketemuan lagi.

6e8cf5794df65a75fdb8fdf4ed2a8e81

kadang saya berpikir – itulah cinta ya, sampek segitunya [mentertawakan diri sendiri], percaya ato ngga, saya justru lebih boros ketika hubungan LDR [tagihan gadget telekomunikasi & tiket transportasi ngga murah loh ya] even bagi saya dan pasangan saya [bersyukurlah kalau pasangannya se-kaya suaminya Kendra Spears, kayaknya ceweknya ngga bakal ngeluarin ongkos]

Selain berat di ongkos, berat di hati juga, jangan ditanya ya – meskipun saya bukan anak gaol [baca malam minggu cafegoers from cafe to another cafe or nonton di bioskop] tapi percayalah saya juga pernah pengen sekali malam mingguan sama pasangan saya, entah nonton ke bioskop, entah nongkrong di cafe melihat bokeh bareng , sementara LDR cukup dengan skype atau telpon, namun rasanya tetap saja beda meskipun kita berlokasi di tempat yang kita inginkan bersama pasangan tersebut.

Belum lagi mengalami yang namanya miskom alias miss communication, misal ketika sedang komunikasi  lewat chat, bisa jadi mood pembaca dan pengirim tidak sama sehingga intrepretasi penerima dan pengirim beda, akibat tidak adanya sinkronisasi pada media transcievernya [lah kok jadi matkul sinyal & sistem] intinya dengan kondisi mood yang berbeda antara pengirim dan penerima bisa membuat terjadinya perkelahian yang gak jelas dan ga penting. Hayo ngaku buat yang lagi LDR’an :p

Ngga cuman dengan chat, berbicara lewat telephone juga begitu [apakah harus pake metode surat seperti film Dear John ya-kebayang nyampenya makin lama suratnya], jangan salah ketika dulu saya punya mantan pacar engineer BTS bukannya sinyalnya selalu kuat tapi sering kali kami mengalami GOS/call drop [emang ngaruh ya sinyal dan pacar engineer BTS – tentu saja tidak, kecuali kamu pacaran ama tower BTS-nya hahaha] call drop ini sungguh ga enak, lagi enak-enaknya cerita tiba-tiba terputus, belum lagi kalo misalkan diputus dari provider telekomunikasinya akibat dapat bonuslah atau pulsa habis *segera mampir ke indomart/alfamart/atm terdekat :p *

107e647edd9825175dbf5c243d427e7f

Namun, entah kenapa buat saya pacaran LDR tetap aja seru meskipun kejadian rintangan diatas sering kali terjadi, serunya salah satunya adalah selalu deg-deg’an tiap kali ketemu dan sedih tiap kali kalo waktunya bertemu habis 🙁 [jangan tanya ya,tempat kedatangan dan kepulangan di bandara menjadi lokasi favorit saya].

fe1d6dbfcc45a0a098146c33e7be2aa4

Buat saya yang sering mengalami LDR lalu ada kesempatan untuk ketemu, itu merupakan moment yang tak terlupakan, bayangkan setiap hari hanya melihat dari skype – mendengar suaranya dari HP sekarang kita bisa memegang tangannya sungguhan, its miracle! dan dari situ belajar banget namanya menghargai waktu-bahkan saking bahagianya sampe ndak perlu pake blush on karena pipi sudah menciptakan blushing otomatis 🙂 .

Selain itu dengan LDR kita belajar untuk bersabar dalam menunggu segala sesuatu meskipun itu berat, belajar untuk percaya bahwa orang yang disayangi juga sayang sama kita [meskipun ada yang tega , sudah LDR eh masi nyelingkuhi] .

Entah mengapa saya justru tidak menyalahkan orang-orang yang gagal berhubungan akibat LDR [meskipun saya salah satunya], saya bukan menyalahkan jarak dan bentuk hubungannya, namun kembali lagi kepada rasa cinta masing-masing pasangan tersebut alias komitmennya , buat saya LDR adalah suatu sarana dalam berhubungan dimana menyenangkan sekaligus banyak suka dukanya – toh pasangan yang selalu dekat juga belum tentu lebih baik bukan? 🙂

finally postingan saya – saya tutup dengan Quote dari pinterest yang saya comot barusan! Selamat September Ceria reader!

buat yang lagi LDR semangat!

and share dong opini/experience tentang LDR yg udah pernah/lagi dialami sekarang 😀

ddf0bda2d7641d0dbd2833e0df09cfc3

You may also like

6 Comments

Leave a Reply