BTS [fiction mini]

DSC_0412

“Jo, foto kita dong masa yang di foto tower mulu? apa bagusnya tower itu coba?

Aku tersenyum menimpali celetukan Maya – yang sudah ready to shoot di taman Brajasandi di bali , kebetulan kantor kami mengadakan outing dan seperti biasa berlokasi di Bali .

Kali ini aku,Maya, Rino dan Kristo escape untuk jalan-jalan sendiri ketimbang mengikuti rombongan yang pasti lagi shopping di pasar seni sukawati.

dan kameraku pun mengambil gambar Maya,Rino dan Kristo yang sedang bergaya levitasi.

Namaku Joana,27 tahun, biasa dipanggil Jo – Sarjana Teknik Telekomunikasi , terobsesi dengan tower BTS dan sekarang banting setir bekerja di dunia yang sangat jauh berbeda dari jurusanku dulu yaitu di dunia HR di salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia.

“Udah ya, capek nih foto kalian – udah kayak ngalah-ngalahin foto buat kalender kantor aja “ ujarku sambil mengelap keringat.

“makan nasi wardhani yuk “ ujar Kristo dengan mengelus perutnya

“ayok, laper banget” ujar Rino juga

“iiih kalian ini udah Bapak-bapak banget, tampilan eksmud, perut kayak umur bapak-bapak Tua, bukanya tadi habis ngabisin toblerone aku 3 bungkus?” keluh Maya

Maya memang mantan seorang model dan artis, tapi ya gitu mantan figuran maksudnya, paling banter jadi pemeran orang lewat pas di iklan pembalut wanita. Mungkin dunia entertaiment bukan tempat rejekinya sehingga kini dia malah terbuang di perusahaan minyak dan satu divisi dengan aku walaupun beda subcon jobdesknya.

Kami pun segera menuju warung nasi wardhani di denpasar dengan aku sebagai penunjuk jalan, karena udah ga terhitung berapa kali aku pergi ke Bali.

ketika sedang menjadi guide, Maya melihat koleksi foto-foto dari kameraku bersama Rino. Aku dan Kristo konsentrasi menyetir dan memandu jalan karena denpasar selalu ramai di tengah-tengah tahun begini.

ketika macet, Rino menyeletuk suatu pertanyaan yang membuatku tidak ingin mengingat alasan dari jawaban pertanyaan itu.

“Jo, kenapa foto-fotomu isinya banyak banget foto tower ya? kalau fotonya si Mr. Steve itu sih okey ya, lah ini kok tower semua? apa jaman kuliahmu belom puas bahas tentang tower?”

Mr Steve adalah manajer IT baru dari singapore,dan baru dimutasi ke tempatku bekerja, ganteng, baik hati dan single tentunya yang mana beberapa hari ini lumayan suka menemani diriku makan siang akibat hobi kita yang sama yaitu fotografi.

Pertanyaan Rino mengingatkanku akan kenangan 10 tahun yang lalu.

aku ngga yakin itu namanya first love tapi pengaruh Harris yang seorang Engineer BTS membuatku jatuh cinta dengan BTS, sehingga aku tertarik mengambil studi telekomunikasi – dan ketika mengambil perkuliahan itu aku setengah mati ngos-ngosan dibuatnya karena sinyal dan sistem itu ngga gampang.

saat itu aku memang menjalin hubungan dengan pria yang memang usianya jauh lebih tua dari aku dan sudah menjadi kebiasaan aku jatuh cinta dengan usia yang lebih tua mungkin karena kedewasaannya.

Hubungan aku dan Harris kandas disebabkan adanya perbedaan keyakinan yang memang tidak bisa kami paksakan, apapun ituย  memang kami tidak akan pernah bisa bersama, dan kami pun berjalan sendiri-sendiri sampai suatu ketika aku mendapatkan kabar Harris dipanggil ke peristirahatannya yang abadi akibat kecelakaan.

Bali merupakan tempat pertama dimana Harris menjadikannya seorang profesional Engineer BTS disalah satu vendor BTS terbesar di dunia. Setiap kali Harris mengerjakan sesuatu di site terutama di Bali , Harris selalu mengirimkan foto tower kepadaku, mulai dari anak buahnya yang sedang manjat-manjat, Rumah kabelnya/shelter bahkan foto ketika dia sedang sibuk menyeting suatu alat.

Thats why I love BTS, mungkin orang lain akan menganggapku gila, tapi memang benar adanya, sejak saat itu aku suka dan feel exited dengan yang namanya tower BTS dan peralatan yang terpasang diatasnya [antena sektoral ataupun parabola].

Bali juga selalu mengingatkanku tentang si Harris, tentang nasi wardhani sebagai makanan siang favoritnya, tentang pempek palembang pak Chocho favoritnya,dan Ubud tempat escapeย  sementara dirinya apabila kerjaannya membuat dia stress dan butuh ketenangan.

Ketika aku putus dari Harris merupakan masa-masa yang paling berat, karena everytime I saw BTS tower I reminds about you – bayangkan saja di indonesia ini ada berapa banyak jumlah tower di setiap beberapa kilometer.

Akupun menyelesaikan studiku dengan ngos-ngosan karena aku mencintai seorang Harris dengan gaya menceritakan passionnya, bukan dunia passionnya dan ketika aku dipaksa mau tidak mau suka dengan dunia passionnya, hasilnya aku juga berusaha setengah mati untuk tidak terbawa larut dengan emosi dalam menyelesaikan studiku alias move on,

Pernah suatu saat ketika aku mengeluarkan statment aku ingin mengambil studi telekomunikasi, Harris meragukanku

“Aku mau ambil jurusan telekomunikasi deh, kan seru kayaknya kalo kita bekerja di bidang yg sama nantinya” ujarku di telephone – karena hubungan kami LDR antara Bali dan Surabaya

“kamu yakin? Jangan pilih studi karena aku loh ya, tapi pilih studi karena kamu benar-benar yakin cinta dan minat” kata Harris di telephone , terdengar suaranya yang kelelahan akibat dari site

“yakin seyakin-yakinnya, berkat kamu aku jadi jatuh cinta ama dunia BTS”

Oh jadi kamu jatuh cintanya ama BTS bukan ama aku ya?” kata Harris lagi

“yeeeeeeeeeeee kamuuu ituuu”

perbincangan itupun diakhiri dengan canda tawa – ah sudahlah itu 10 tahun yang lalu – dan memang benar apa yang Harris bilang, aku mengambil studiku bukan karena aku jatuh cinta dengan ilmunya tetapi karena Harris.

Gara-gara Harrisย  juga aku ngga pernah bosan untuk mengoleksi semua foto koleksi tentang BTS, mulai dari foto yang diberikan Harris sampai foto yang sekarang aku koleksi dengan kamera dslrku sendiri.

Kalau ditanya hampir setengah isi laptop isinya adalah foto tower BTS, buat aku foto itu mengingatkanku bahwa kamu selalu tetap ada Harris, sampai kapanpun.

Dulu, ketika aku lulus kuliah, aku pun sempat mendapat panggilan kerja di perusahaan telekomunikasi dengan gaji yang sama di perusahaan minyak ini, namun aku menolak dengan alasan yang mungkin menurut orang lain klise banget, justru ketika aku di perusahaan telekomunikasi, aku akan lebih sering menemui tentang dunia telekomunikasi tentunya dengan towernya dan aku ngga akan siap mengingat tentang kerjaannya Harris – tentang passionnya Harris.

Cukup aku memandangimu dari kejauhan saja, mengambil bentuk BTS itu dari kamera kesayanganku dan mempelajari tentang passion kamu selama 4 tahun di bangku kuliah.

dan here I am, terdampar di perusahaan minyak dan sekarang malah di dunia HR

“ditanya kok malah diem” timpal si Kristo – dimana kita udah stuck macet hampir 30 menit

“Iya, mending foto Mr Steve yang banyak, lumayan bisa buat wallpaper di kompi kantor” ujar Maya menimpali juga

“Oh gpp, iseng aja nyelidikin itu towernya vendor telekomunikasi siapa” aku jawab sekenanya sambil memandang langit biru di Denpasar hari ini, berharap bahwa diatas sana Harris selalu tahu bahwa Harris selalu ada ruang di dalam hatiku dan pikiranku, selalu.

dan kisah Harris & tower BTS ini, aku memang memilih memendam ceritaku sendiri, sampai entah kapan hingga suatu hari aku siap untuk menceritakannya kepada orang lain.

radio pun memutar lagu The one that got away-nya Katy Perry – yes you Harris, you are the one that got away

You may also like

9 Comments

  1. Wah wah waahhh terlena saya membacanya, mbak. Ceritanya kereeeen cuma penulisan huruf besar dan kecil masih banyak kekurangan disana-sini ya (maaf kalau kasi kritik membangun yaa :D). Besok2 kalau lihat BTS, aku pasti teringat ceritamu ini mbak Ajeng ๐Ÿ™‚

Leave a Reply